Sunday, May 5, 2013

Hulu Sungai Utara (Amuntai)

peta lokasi kota Amuntai-berwarna merah (sumber foto: wikipedia.org)
Hulu Sungai Utara adalah sebuah kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan yang terletak pada koordinat antara 2º sampai 3º lintang selatan dan 115º sampai 116º bujur timur, terletak di daerah dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 0 m sampai dengan 7 m di atas permukaan air laut. Dengan luas wilayah sebesar 892,7 km² ini, sebagian besar terdiri atas dataran rendah yang digenangi oleh lahan rawa baik yang tergenang secara monoton maupun yang tergenang secara periodik. Kurang lebih 570 km² adalah merupakan lahan rawa dan sebagian besar belum termanfaatkan secara optimal (sumber: wikipedia  dan situs pemerintah HSU)
Itik Alabio dan Kerbau Raw
Itik Alabio (sumber foto: waksakasatu.blogspot.com)
Kota Amuntai terkenal dengan itik Alabio-nya. Itik Alabio adalah itik (bebek) Kalimantan yang berasal dari persilangan itik Kalimantan dengan Itik Peking (itik pedaging). Nama itik Alabio sendiri  diambil dari sebuah daerah bernama Alabio yang menjadi pusat perdagangan unggas ini yang diberi nama oleh seorang ilmuan yang bernama drh. Saleh Puspo. Ilmuan ini yang banyak melakukan penelitian tentang itik alabio ini. Berpusat di desa Mamar, itik Alabio terkenal di penjuru Indonesia karena termasuk unggas dengan produktivitas telur yang tinggi. Tak heran, Amuntai pun terkenal dengan Itik Panggang-nya yang lezat.Di beberapa sudut kota kita bisa dengan mudah menemui rumah makan yang menyajikan Itik Panggang beserta lauk khas Amuntai lainnya seperti Burung Belibis Panggang dan Udang Galah Panggang.

kerbau rawa di danau panggang (sumber foto:Djoko Wibowo)
kerbau rawa di danau panggang (sumber foto:Djoko Wibowo)

Ada pula kerbau rawa yang juga menjadi hewan khas di Amuntai. Hewan bernama latin Bubalus bubalis ini bisa kita temui di kecamatan Danau Panggang dan kecamatan Paminggir. Ternak ini digembalakan  di daerah rawa dan dikandangkan pula di sebuah tumpukan balok kayu beratap langit terbuka di tengah rawa. Karena nya penggembala kerbau rawa harus menggunakan perahu kayu kecil (jukung) untuk mengawasi ternaknya. Kekhasan Amuntai yang cukup unik tersebut membuat kota kecil di tengah rawa ini berkali-kali di tayangkan sebuah stasiun televisi di Indonesia dengan aneka programnya, yang sering dalam program petualangan dan anak-anak

Kerajinan dan Industri
Amuntai tidak memiliki sumber daya pertambangan seperti beberapa kabupaten lain di Kalimantan Selatan. Oleh karenanya, masyarakat Amuntai menggantungkan hidupnya pada aktivitas perdagangan dan kerajinan. Kerajinan  berbahan baku rotan dengan beragam hasil produk seperti lampit, kotak tisu dari rotan, kursi malas dari rotan, sketsel pintu dari rotan, dan beraneka jenis anyaman rotan lainnya sudah dilakukan sejak berpuluh tahun yang lalu. Meskipun melalui pasang surut, para pengrajinnya tetap bertahan hingga saat. Setiap Kamis subuh setiap minggunya terdapat pasar kerajinan ini. Lokasinya tepat di sepanjang jalan sekitar Taman Junjung Buih, kurang lebih 200meter dari pasar induk.

kerajinan lampit di pasar subuh Kamis setiap minggunya(sumber foto: wikipedia.org)
Selain kerajinan lampit, Amuntai juga berkembang dengan kerajinan/industri mebel dan alumunium. Industri alumunium banyak terdapat di sepanjang jalan memasuki Amuntai dari arah Barabai-Kandangan melalui Pantai Hambawang. Sedang industri mebel ada di sepanjang jalan menuju Amuntai dari arah Alabio.

Candi Agung
Situs candi yang berlokasi di desa Sungai Malang, Amuntai Tengah ini merupakan peninggalan Kerajaan Negaradipa Khuripan yang dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Kerajaan ini melahirkan 2 di kerajaan, yaitu Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai. Tabalong, Balangan, dan Negara. Kerajaan Negaradipa diperintah oleh Pangeran Surianata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai.
Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat disana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.
 
Kami di Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan
Beberapa kali kami mengunjungi Amuntai ketika masih tinggal di Barabai, kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kota Amuntai menjadi menjadi pilihan karena lokasinya yang hanya 1 jam dengan jarak kurang lebih 49 km, dan saat itu memang ada mantan teman kos si Ayah, mas Agus & istrinya Mbak Isti, yang sedang dinas di PLTD Amuntai sehingga bisa kami kunjungi. Hingga pada tahun 2012 si Ayah di mutasi dinas ke Amuntai, maka jadilah kami benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat disini^^

No comments:

Post a Comment

Post a Comment