Showing posts with label amuntai. Show all posts
Showing posts with label amuntai. Show all posts

Tuesday, May 14, 2013

Jalan Jalan ke Candi Agung Amuntai



Jika berkunjung ke Amuntai-Kabupaten Hulu Sungai Utara, silakan menyempatkan diri untuk melihat situs Candi Agung Amunta, sebuah situs candi Hindu berukuran kecil yang terdapat di kawasan Sungai Malang, kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Candi ini diperkirakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang keberadaannya sezaman dengan Kerajaan Majapahit.
Candi Agung Amuntai merupakan peninggalan Kerajaan Negaradipa Khuripan yang dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Dari kerajaan ini akhirnya melahirkan Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai. Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai.
Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat di sana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa. Batu bata yang ditemukan berukuran besar mirip dengan batu bata yang juga ditemukan situs candi Kayen di Dusun Buloh Desa Kayen di Jawa Tengah.(sumber:  wikipedia.org)
Pada hari Sabtu yang cerah, beberapa minggu yang lalu, setelah mengantar Akmal ke sekolah, bersama si Ayah, saya berjalan-jalan ke situs ini. Berdua saja. Sembari mengumpulkan foto-foto sebagai kenang-kenangan akan kota Amuntai, menyempatkan diri ber-our time tanpa ada anak itu sungguh menyenangkan. Refresh otak dan hubungan setelah lama tidak pernah berduaan, hehehehe. Sudah cukup ceritanya, silakan menikmati saja foto-foto dibawah ini ya...^^


Bagian dalam candi


Lingkungan candi yang sejuk dan rindang

Cocok untuk foto-foto nih..

Karena dekat dengan kompleks sekolah, siswa-siswa bisa belajar sejarah dan berkegiatan disini

Situs candi di tutup semacam cungkup untuk melindunginya dari cuaca














Ada pula museum dengan koleksi benda-benda peninggalan situs ini. Foto museumnya saya ambil dari Arief Rahman Saan di wikipedia.org


Sunday, May 5, 2013

Musibah Kebakaran


Sore itu tanggal 5 Mei 2013, di suatu hari Minggu yang sepi, matahari sedikit demi sedikit mulai melemahkan sinarnya. Tetapi masih saja membuat hawa di dalam rumah pengap akibat sengatnya sejak siang hari. Tak lagi ada hujan di penghujung musim berair membawa butiran debu beterbangan kesana kemari. Adzan ashar telah lewat 30 menit, dan saya bersiap mengenakan mukena sedangkan Akmal asyik menonton televisi. Saat hendak takbir pertama, sayup-sayup dari luar rumah terdengar suara orang berlari tergesa. Kemudian samar-samar ada yang berbicara cukup keras dan jelas, "kebakaran...api...asap tebal..." lalu sedetik kemudian suara tiang listrik dipukul berkali-kali...suaranya keras dan cepat menderu. Pikiran panik mulai menggelayut, segera saja saya keluar rumah dan melihat para tetangga sudah berkumpul di sisi jalan sembari mendongakkan kepala keatas melihata keseberang langit, tepat di belakang perumahan. MasyaAllah! Asap hitam membumbung tinggi di langit biru sore itu. Raungan sirene mulai terdengar silih berganti. Ada kebakaran yang terjadi tak jauh dari perumahan. Meskipun bau sangit asap tidak sampai ke rumah, tetapi membayangkan besarnya api yang bisa membuat asap setebal itu jelas membuat begidik yang melihatnya. Masih bertanya-nyata, tidak ada yang tahu dimana terjadinya kebakaran itu. Sesaat kemudian barulah ada seseorang yang datang dari lokasi kejadian yang memberitahukan bahwa musibah ini telah menghanguskan  puluhan rumah di perempatan jalan Palampitan, tepat di seberang Masjid Riyadusholihin.
Musim kemarau yang kering dan panas di Kalimantan Selatan selalu membawa risiko terjadinya musibah kebakaran. Bangunan rumah yang terbuat dari kayu dengan atap sirap maupun daun rambia masih banyak ditemui di provinsi ini. Seringkali rumah-rumah kayu tersebut berdiri berdempetan satu dengan yang lainnya. Meskipun tidak seorang pun menginginkan hal itu terjadi, ada kalanya keteledoran tak disengaja membawa bencana kehilangan bagi banyak orang. Semoga kita semua selalu diingatkan melalui musibah ini agar selalu berhati-hati dan senantiasa berdoa kepada-Nya.

Tinggal puing-puing

Kemeriahan STQN ke 19 & Hut Amuntai ke 61

Menjelang kepindahan kami ke Palangkaraya, Amuntai sedang semarak dengan penyelenggaraan STQN ke 19 sekaligus HUT ke 61. Setiap sudut kota berhias cantik untuk memeriahkannya. Umbul-umbul dan lampu jalan dipasang di sepanjang jalan. Bila malam tiba, kelap-kelip lampu dan lampion mempercantik kota ini. Diadakan juga bazar/pasar raya yang semakin memeriahkan suasana. Berbagai kabupaten di Kalimantan Selatan turut serta membuka stan memamerkan keunikan daerah masing-masing. Tidak ketinggalan para pedagang nomaden dari pulau jawa yang turut pula meramaikan bazar dengan aneka dagangannya.
spanduk besar sepanjang alun-alun Amuntai

Stan peserta bazar di siang hari
Begitu sore hari, bazar mulai dipadati keramaian

stan kerajinan dari jawa

kapal-kapal an, sejak dulu hingga sekarang masih sama..^^

kopiah rotan Margasari

dagangan ikan cupang

ada upin-ipn, tom and jerry, hello kitty....keon juga bisa dandan ya..^^

kerak telor nyampe amuntai juga toh..yang jual Jokowi lagi..hehehe

Dari semua penjual kerak telor, si abang ini yang penampilannya paling meyakinkan, makanya banyak yang beli



Hulu Sungai Utara (Amuntai)

peta lokasi kota Amuntai-berwarna merah (sumber foto: wikipedia.org)
Hulu Sungai Utara adalah sebuah kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan yang terletak pada koordinat antara 2º sampai 3º lintang selatan dan 115º sampai 116º bujur timur, terletak di daerah dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 0 m sampai dengan 7 m di atas permukaan air laut. Dengan luas wilayah sebesar 892,7 km² ini, sebagian besar terdiri atas dataran rendah yang digenangi oleh lahan rawa baik yang tergenang secara monoton maupun yang tergenang secara periodik. Kurang lebih 570 km² adalah merupakan lahan rawa dan sebagian besar belum termanfaatkan secara optimal (sumber: wikipedia  dan situs pemerintah HSU)
Itik Alabio dan Kerbau Raw
Itik Alabio (sumber foto: waksakasatu.blogspot.com)
Kota Amuntai terkenal dengan itik Alabio-nya. Itik Alabio adalah itik (bebek) Kalimantan yang berasal dari persilangan itik Kalimantan dengan Itik Peking (itik pedaging). Nama itik Alabio sendiri  diambil dari sebuah daerah bernama Alabio yang menjadi pusat perdagangan unggas ini yang diberi nama oleh seorang ilmuan yang bernama drh. Saleh Puspo. Ilmuan ini yang banyak melakukan penelitian tentang itik alabio ini. Berpusat di desa Mamar, itik Alabio terkenal di penjuru Indonesia karena termasuk unggas dengan produktivitas telur yang tinggi. Tak heran, Amuntai pun terkenal dengan Itik Panggang-nya yang lezat.Di beberapa sudut kota kita bisa dengan mudah menemui rumah makan yang menyajikan Itik Panggang beserta lauk khas Amuntai lainnya seperti Burung Belibis Panggang dan Udang Galah Panggang.

kerbau rawa di danau panggang (sumber foto:Djoko Wibowo)
kerbau rawa di danau panggang (sumber foto:Djoko Wibowo)

Ada pula kerbau rawa yang juga menjadi hewan khas di Amuntai. Hewan bernama latin Bubalus bubalis ini bisa kita temui di kecamatan Danau Panggang dan kecamatan Paminggir. Ternak ini digembalakan  di daerah rawa dan dikandangkan pula di sebuah tumpukan balok kayu beratap langit terbuka di tengah rawa. Karena nya penggembala kerbau rawa harus menggunakan perahu kayu kecil (jukung) untuk mengawasi ternaknya. Kekhasan Amuntai yang cukup unik tersebut membuat kota kecil di tengah rawa ini berkali-kali di tayangkan sebuah stasiun televisi di Indonesia dengan aneka programnya, yang sering dalam program petualangan dan anak-anak

Kerajinan dan Industri
Amuntai tidak memiliki sumber daya pertambangan seperti beberapa kabupaten lain di Kalimantan Selatan. Oleh karenanya, masyarakat Amuntai menggantungkan hidupnya pada aktivitas perdagangan dan kerajinan. Kerajinan  berbahan baku rotan dengan beragam hasil produk seperti lampit, kotak tisu dari rotan, kursi malas dari rotan, sketsel pintu dari rotan, dan beraneka jenis anyaman rotan lainnya sudah dilakukan sejak berpuluh tahun yang lalu. Meskipun melalui pasang surut, para pengrajinnya tetap bertahan hingga saat. Setiap Kamis subuh setiap minggunya terdapat pasar kerajinan ini. Lokasinya tepat di sepanjang jalan sekitar Taman Junjung Buih, kurang lebih 200meter dari pasar induk.

kerajinan lampit di pasar subuh Kamis setiap minggunya(sumber foto: wikipedia.org)
Selain kerajinan lampit, Amuntai juga berkembang dengan kerajinan/industri mebel dan alumunium. Industri alumunium banyak terdapat di sepanjang jalan memasuki Amuntai dari arah Barabai-Kandangan melalui Pantai Hambawang. Sedang industri mebel ada di sepanjang jalan menuju Amuntai dari arah Alabio.

Candi Agung
Situs candi yang berlokasi di desa Sungai Malang, Amuntai Tengah ini merupakan peninggalan Kerajaan Negaradipa Khuripan yang dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Kerajaan ini melahirkan 2 di kerajaan, yaitu Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai. Tabalong, Balangan, dan Negara. Kerajaan Negaradipa diperintah oleh Pangeran Surianata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai.
Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat disana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.
 
Kami di Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan
Beberapa kali kami mengunjungi Amuntai ketika masih tinggal di Barabai, kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kota Amuntai menjadi menjadi pilihan karena lokasinya yang hanya 1 jam dengan jarak kurang lebih 49 km, dan saat itu memang ada mantan teman kos si Ayah, mas Agus & istrinya Mbak Isti, yang sedang dinas di PLTD Amuntai sehingga bisa kami kunjungi. Hingga pada tahun 2012 si Ayah di mutasi dinas ke Amuntai, maka jadilah kami benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat disini^^